Akademi Corona

Minggu, 20 Juni 2021 | Penulis: Ilina Marinda Handjojo | Cerpen

Fell Free without Mask

AKADEMI CORONA Pandemi Covid-19 yang melanda dunia ahkir tahun 2019 dan masuk ke Indonesia pada awal tahun 2020 berdampak pada beberapa sector kehidupan. Dampak yang paling terasa adalah pada sector ekonomi dan pariwisata karena kami tinggal di Bali.Dengan adanya himbauan dari pemerintah untuk menerapkan social distancing dan Pembatasan Sosial Berkala Besar ( PSBB), aktivitas masyarakat serta kegiatan yang bersifat mengundang keramaian dibatasi guna mencegah penyebaran virus di suatu daerah.

Banyak karyawan yang dirumahkan diakitbatkan oleh pandemi. Ini memberi dampak ekonomis dan psikologis bagi banyak kalangan. Tak dipungkiri juga bahwa hal ini memberikan dampak yang sangat besar dengan adanya penurunan gaya hidup serta daya beli masyarakat sebab kondisi pandemic ini tidak dapat diprediksi kapan akan berahkir. Oleh karena itu penulis ingin menceritakan buku catatan hariannya selama menghadapi Akademi Corona yang sudah dialaminya selama setahun yang telah berlalu ini. Dimulai ketika corona mulai masuk ke Indonesia.

Januari 2020 Baru juga kita merayakan pergantian tahun 2-0-2-0 dengan penuh gembira dan harapan, ternyata harapan tinggalah sebuah harapan , ternyata angka kembar itu , ya angka dua kosong dua kosong itu seperti angka yang membawa sebuah misteri ataukah sebuah angka keberuntungan? Karena dipergantian tahun itu , seluruh dunia dikejutkan dengan sebuah peristiwa besar, hanya dengan sebuah kata “LOCKDOWN” dari anak-anak hingga lansia sudah tidak terbiasa mengatakan istilah asing tersebut, sejak kehadiran covid-19, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan virus ini sebagai pandemi atau wabah penyakit global dan semua orang harus belajar pola hidup bersih, mencuci tangan, mengatur jarak hingga mengunakan masker, bukan hanya pola hidup saja tetapi juga pola kerja ( Work From Home), istilah lainnya yang muncul dari kejadian ini adalah “HBL” Home-Based Learning-Aktivitas Pembelajaran di Rumah. STAY AT HOME kata spanduk yang tertempel disepanjang jalan utama kota-kota di bali, ada guratan rasa sedih dan kecewa yang dirasakan didalam hati Isabel, himbauan pemerintah kota untuk tidak menerima tamu juga membuatnya berfikir cukup keras, bagaimana caranya aku bisa mengais rejeki, pekerjaanku harus bertatap muka karena aku harus menwarkan daganganku kepada setiap orang yang aku jumpai, sampai kapan larangan itu berlaku?

Dengan pandangan kosong , Isabel terus mengendarai motornya agar segera tiba dirumah.gerah dan panas ucap Isabel seorang diri, keringat membalur sekujur tubuhnya dan merasakan pengap yang luar biasa, ditambah lagi hampir seluruh wajahnya tertutup oleh masker.saat itu jam menunjukkan pukul 14:00 Wita. Isabel segera mempercepat laju motor nya karena akan kuliah online dari rumahnya . sesampainya dirumah Isabel melihat motor suami sudah terparkir rapi, itu bertanda bahwa suami sudah pulang dari berjualan, ketika masuk rumah Isabel melihat raut muka suaminnya tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kebahagiaan, hai, sudah pulang? Tanya Isabel , ya jawab suaminya singkat, sudah makan? Tanya Isabel lagi ? belum dengan nada datar suaminya menjawab, kemudian Isabel menghela nafas dan merasakan bahwa suami sedang tidak mood diajak bicara, Isabel berjalan kearah wastfel sambil mencuci tangan nya dia tersenyum dan berkata apa yang terjadi mas , bagaimana kalau kita makan sambil bercerita , ajak Isabel , dan suaminya cuma mengangguk tanda setuju sambil berjalan kearah meja makan. Dengan penuh kasih sayang Isabel merajuk manja kepada suaminya, mas , sebelum duduk peluklah aku, siapa tau dapat melepaskan kepenatanmu seharian, pintanya manja. Mas Al menuruti saja permintaan Isabel, sambil berpelukan mas Al meminta maaf Karena tidak berhasil menjual dagangan nya dengan baik, maaf Isabel, hari ini sepi sekali , banyak pasar ditutup, semua instansi tidak menginjinkan pedagang memasuki area kantor mereka, dengan rasa bersalah yang cukup besar, mas Al meminta maaf kepada Isabel, Isabel merasakan tekanan yang cukup berat yang dialami oleh suaminya itu dan mencoba menenangkannya , mas , sabar ya, semua orang bahkan dunia mengalami ini semua, saya tau apa yang kamu pikirkan, mas sebagai kepala keluarga merasa bertanggung jawab atas semua tagihan dan perekonomian dalam keluarga kita, mari mas, kita bagi beban ini berdua ya. Dan mereka pun berpelukan erat ,seolah-olah ingin saling membagikan beban mereka.

Februari 2020 Rambo panggilan kesayanganku untuk buah hatiku sama mas Al, walaupun kecil tapi banyak orang bilang kecil-kecil cabe rawit karena sikap tidak pernah menyerah dan mau tau ( kepo kalau bahasa gaulnya ) membuat dia tidak seperti usia nya yang masih lima tahun. “Mama mama mama” teriak Rambo, membuyarkan lamunan Isabel saat itu, setengah kaget , Isabel menjawab dengan tenang ,”ada apa Rambo?” Rambo pun menjawab” mama kapan aku sekolah lagi, bosen dirumah dan kangen main sama teman-teman disekolah!” rengek manjanya , dengan penuh kasih sayang , Isabel memeluk dan mencium kemudian mengelus-elus kepala Rambo dan berfikir bagaimana cara yang bijaksana agar Rambo mengerti bahwa sekarang ini situasi memang sedang genting karena virus covid -19. Rambo sayang, mama juga tidak tahu kapan ini berahkir tapi Rambo tau kan semua yang dilakukan pemerintah, sekolah dan mama adalah untuk menjaga Rambo agar Rambo selalu sehat dan terhindar dari covid-19 ini, karena usia Rambo terbilang masih kecil dan rentan kena virus ini sayang, “ya mama, Rambo tahu, siapa sih yang menciptakan covid, kenapa dia ga pulang-pulang, kenapa covid jahat ya mama membunuh orang-orang dan masih banyak serentetan pertanyaan yang diajukan Rambo,sehingga membuat Isabel hanya bisa memeluk erat dan menenangkannya dan mengalihkan pembicaraan ke permainan ular tangga agar Rambo mau lupa untuk sesaat dan tidak memikirkan hal tersebut, sejak diberlakukannya sekolah daring maka Isabel harus banyak berfikir bagaimana membuat Rambo mau diam dirumah dan bermain bersama, banyak mainan yang baru yang diperkenalkan isabael kepada Rambo agar tidak main gadget saja. Missal monopoli, ludo, catur, bulutangkis dalam rumah, bowling dan masih banyak lagi.

Maret 2020 “Kabar gembira” teriak Mas Al, “ada apa” kata Isabel, “kita dipercaya memegang sebuah merk sabun cuci piring untuk area Tabanan- Denpasar “ kata mas Al sambil berbinar-binar bercerita kepada Isabel, Isabel mengucap syukur dan bergembira mendengar berita tersebut, hari-hari pun berlalu dan setiap hari kami selalu mempromosikan sabun tersebut, dari mulai penjualan setiap hari hanya 30 dus sampai ahkirnya kami berani mendatangkan sabun satu container dari pulau jawa, setiap hari ada saja Isabel menerima permintaan seseorang untuk menjadi agen retail kami, dan kami pun berkomitmen untuk membantu teman-teman yang bekerja di pariwisata dan terkena dampak akademi corona ini, mengajak mereka untuk memanfaatkan mobil guide tur mereka untuk kelilingan atau hanya sekedar berhenti mencari tempat teduh untuk berjualan sabun dan alhasil banyak orang juga berterimakasih kepada kami karena diberi peluang bisnis dimasa sulit seperti ini, tapi kami melihat dimasa sulit ini malah Tuhan percayakan kepada kami peluang demi peluang untuk bertahan hidup.

Di hari senin yang cerah tiba-tiba Isabel didatangin seorang ibu yang meminta Isabel untuk meminjamkan barang agar dapat dijualnya dan berjanji jika laku akan segera dibayar, dengan semua kisah, keluh yang ibu itu sampaikan sampai beberapa kali harus menitikkan air mata atas pengalaman hidupnya yang sangat terpuruk , membuat Isabel tidak tega dan ahkirnya dengan penuh keragu-raguan Isabel memberikan pinjaman tersebut tanpa bertanya kepada mas Al, dalam hati Isabel berkata ya sudah kalau ibu itu tidak kembali lagi berarti saya harus iklaskan guman Isabel, dan ibu itu pun mengucapkan kata terimakasih berulang kali kepada Isabel, dari kejadian itu Isabel mendapatkan sebuah ide cemerlang , jika ada teman meminjam uang tidak lagi dilayani oleh Isabel tapi dengan cara memberikan satu dus sabun untuk mereka mendapatkan penghasilan jadi sekalian mengajarkan kepada mereka untuk tidak memiliki mental pengemis , hmmm ide bagus gumam Isabel sambil senyum-senyum sendiri.

April 2020 Pukul 21:00 Wita, tiba-tiba Isabel merasakan badannya sakit semua, pertama kali merasakan ada sesuatu yang aneh di badan. Gak enak rasanya. Mendadak panas tinggi, tapi tidak seperti demam biasa dan kedinginan .Ini beda. Lebih mirip demam waktu kena flu tulang atau flu singapore. Panasnya di dalam tubuh, seperti ada api membara. Langsung saja isabel mengungsikan diri dan mengunci diri di kamar sebelah dan tidak boleh ada yang boleh masuk, jika Isabel membutuhkan minum ,vitamin, dan makanan, maka mas al akan meletakkannya dimeja kemudian keluar lagi dan keesokan harinya Isabel mulai kesal karena minyak telon baby yang dia sukai mendadak tidak mengeluarkan aroma yang membuat Isabel nyaman seperti biasanya dan lidahnya mulai tidak dapat membedakan rasa apapun, hambar rasanya makanan yang dirasakannya dan Isabel mulai merasakan tak berdaya sampai-sampai mau mengangkat badannya untuk sekedar ke toilet saja susah, tidak lama kemudian Isabel menghubungi mas Al untuk memintanya mengantar ke rumah sakit, mas ..aku sudah tidak kuat lagi, tolong antar aku sekarang pintanya lemas, saat itu juga mas Al langsung mengiyakan tanpa berkata apa-apa, setelah menyiapkan mobil , mas al kembali lagi ke kamar dan membantu Isabel untuk keluar menuju garasi, sepanjang jalan tidak lagi terdengar kicauan Isabel seperti biasa, suasana kaku dan mencekam yang dirasakan oleh mas Al saat itu, bingung, galau, panic campur aduk rasanya melihat istrinya meringkuk kesakitan disampingnya, dan tidak lama kemudian sampailah mereka dirumah sakit dan langsung parkir didepan UGD, dan meminta tim medis untuk membantu, betapa terkejutnya Isabel dan mas al pada saat itu karena ruangan UGD pun penuh dengan pasien-pasien yang dari raut mukanya saja bisa diasumsikan mereka juga sedang berjuang melawan penyakit mereka, tidak beberapa lama untunglah Isabel mendapat tempat tidur walaupun diluar kamar-kamar periksa karena penuh semua, sambil menunggu giliran di periksa. 

Isabel menahan rasa sakitnya itu dan terus memperkatakan hal-hal yang membangkitkan gairah dan semangatnya, tak lama kemudian seorang dokter wanita menuju ke Isabel sambil berpakaian APD lengkap membawa perlatan dokter mulai memeriksa dan bertanya, nama , umur, dan apa keluahannya,Tanya dokter , Isabel menjawab lirih semua badan saya sakit, ada batuk , Tanya dokter lagi, Isabel menggeleng kan kepala, kemudian dokter mulai cek suhu tubuh dan tensi dan berkata pelan tensi mu rendah harusnya dengan tensi seperti ini kamu sudah pingsan, minum air putih yang banyak ya, kata dokter setengah kaget melihat tensi Isabel yang sangat rendah, saya sakit apa dok , Tanya Isabel, hmmm kemungkinan demam berdarah, saya akan menyutikkan obat dan setelah itu diobservasi selama 1 jam jika tidak ada reaksi yang berlebihan maka anda boleh pulang dan rawat jalan, tegas dokter itu dan Isabel hanya menghela nafas tanda setuju, 5 menit telah berlalu dan suara-suara alat-alat di UGD membuat Isabel tidak bisa istirahat dengan tenang , sebelah bilik Isabel ada percakapan yang membuat jantung Isabel sempat berhenti beberapa detik karena sebelah bilik itu dinyatakan positif terkena virus covid-19 dan tidak diijinkan pulang ke rumah, terdengar isak tangis dari keluarga yang mengantarkan dan mereka terdengar serius sedang membicarakan keuangan dan asuransi, ditengah rasa sakit yang melanda Isabel, masih bisa Isabel mengucapkan doa untuk orang dibilik sebelah , agar diberi jalan yang terbaik olehTuhan, lamunan Isabel buyar karena Mas Al menyentuh jari tangannya dan bertanya, mikir apa to kok melamun?

Doain orang sebelah kita itu mas, ucap Isabel lirih, Mas Al tersenyum dan membelai rambut Isabel sambil berkata, ndak salah aku milih kamu jadi istriku, lagi sakit dan berjuang untuk diri sendiri aja masih mikirin orang lain, makin cinta aku sama kamu Isabel. Dan mereka pun bergandengan tangan sampai tidak berasa sudah 1 jam diobservasi dan ahkirnya kami diperbolehkan pulang dengan membawa obat rawat jalan untuk 3 hari saja, jika dalam tiga hari tidak kunjung sembuh maka Isabel diberi surat rujukan ke RS lain dan ketika mas Al membuka isi rujukan tersebut ternyata isinya rujukan covid-19, shock dan kaget tapi Mas Al berpura-pura bersikap normal agar Isabel tidak tambah kepikiran , besok saja dikasih taunya , gumam Mas Al dalam hati.isabel kamu tunggu disini ya , pinta Mas Al, saya keparkiran ambil mobil agar kamu tidak perlu berjalan jauh. Isabel pun menggangguk tanda setuju dan tak lama mobil berwarna hitam dengan plat K 15A83L meluncur menjemput Isabel dan mereka pulang kerumah, sesampainya dirumah, Isabel beristirahat dan masih merasakan kedinginan dan tulang yang sakit.

Hari ke 2 mulai ada yang aneh. Halusinasi. Terus mimpi orang-orang yang sudah meninggal. Mereka begitu dekat, seperti benar-benar nyata. Kuhajar dengan vitamin-vitamin, jus,makan sehari entah sudah berapa kali sampai mau muntah rasanya karena perut seolah-olah sudah tidak mampu lagi menampung makanan yang kumasukkan lewat mulut ku ini, Penyakitnya tambah ganas. Mentalku drop., tiba2 aku meringkuk sambil memanggil nama ibu dan minta maaf padanya. Dan saat itu beliau seperti hadir, "Lawan, nak... Jangan nyerah. Kamu bukan tipe orang kalah.." Terngiang terus kata2- kata itu. Mungkin kata itu pernah ditanamkan di benakku, dan baru keluar dari memory pada waktu yang dibutuhkan.. Hari ke -2 Aku seperti orang gila. Mengancam Covid dan mengajak bertarung dengannya, "Kamu atau aku, kita lihat siapa yang terakhir bertahan.." Dan aku bergumul dengan hajaran-hajaran yang luar bisa. Seperti orang sakaw. Bertarung dengan bayangan. Aku menangis, teriak, pingsan, menangis lagi, teriak dan tertidur kelelahan.. Hari ke 3 tubuh keringat semua. Badan remuk di punggung belakang. Gak bisa tidur, seperti habis digilas truk kontainer. "Sesudah perang besar itu, kamu akan mengalami radang sendi.." Kata seorang dokter yang kuajak chat online. Dia memberikanku pil penahan sakit dan pereda radang karena obat rawat jalan dari rumah sakit sudah habis. PujiTuhan hari ke- 8 aku semakin membaik dan segera setelah jari-jariku bisa merasakan tut keypad handphone, aku dengan cepat nya aku mengetik di google , genjala covid dan tidak terasa hampir 30 menit aku membaca semua berita yang terkait covid-19 ini , dan semua yang dituliskan diatas sama seperti gejala yang ku rasakan.

Lemas membaca semua penjelasan berita-berita tersebut, ahkirnya Isabel memutuskan untuk memperpanjang masa isolasi sampai benar-benar sehat kembali. 14 hari kemudian, setelah melewati perjuangan yang begitu menegangkan ahkirnya Isabel bisa berkata Ternyata Tuhan masih sayang padaku. Tugasku di dunia belum selesai, masih ada pekerjaan rumah yang harus kutuntaskan, jangan pernah menyerah. Jangan kalah. Ketika kita dalam kondisi puncak kesakitan maka mental kita harus dikuatkan. Pikirkan orang-orang yang kamu sayangi, dan kita punya tanggung jawab bersama. Ketika kita menyerah, imun kita turun. Dan itulah saatnya Covid akan membantai kita sehingga badan kita luluh lantak dibuatnya. Dan kalau tidak kuat, nyawa kita pasti lewat. Covid itu ada. Bukan rekayasa. Kamu mungkin tidak percaya jika belum pernah bertarung dengannya. Ada waktunya menang dan ada waktu kalah. Tetapi setidaknya aku pernah berjuang sampai titik mental terbawah. Jaga dirimu kawan Juga keluargamu. Terutama orangtuamu. Mereka belum tentu sekuat kita. Dan jangan lupa lakukan Protokol kesehatan demikian tulis Isabel di status nya agar semua teman-temannya membaca kisahnya.

Mei 2020 Pagi yang sangat cerah, mentari menyapa begitu hangat. Ini adalah hari pertama Isabel termenung diteras rumahnya, biasanya Isabel sibuk mengurusi penjualan dari pagi bahkan tak jarang sampai larut malam , apalagi kalau ada jadwal pengiriman barang , stress berat karena harus menunggu supir tanpa ada kejelasan kapan mereka selesai antri di pelabuhan untuk tes swab dan menjalanin serangkaian Tanya jawab dari aparat setempat, boro-boro ke salon sekadar bersantai sejenak saja tidak bisa tapi sekarang Isabel tampak menghabiskan waktu dengan mengurus diri sendiri yang terlihat kusut dan kusam karena waktunya habis untuk mengurusin para agen saja , ya, sekarang banyak sekali agen-agen yang berpindah ke distributor lain karena dijanjikan yang lebih menarik, Isabel tidak mengeluh karena paham benar bahwa bisnis itu kejam ,tidak pandang saudara apalagi Cuma teman, teman aja bisa dimakan juga. Tiba-tiba lamunan Isabel dibuyarkan oleh sapaan khas dari duo S ( Sagung dan Sutia) “buuuuuueeeeeee, teriak mereka, iya jawab Isabel, hadew kalian ini kebiasaan kok selalu bikin saya kaget, kata Isabel setengah kesal dan duo S hanya tertawa saja melihat tingkah Isabel yang ngomel-ngomel sendiri. “Ada apa kalian pagi-pagi kerumah kok tumben” Tanya Isabel, bu’e jangan pecat kami ya kata duo S, kami tau bu’e uda sepi order dan kesulitan meng-gaji kami, bu’e kami juga tulang punggung keluarga , tolong ijinkan kami tetap bekerja ya bu’e , pinta mereka, belum sempat Isabel menjawab , duo S sudah merengek lagi, Katanya “ kayak ditivi-tivi itu bu’e seminggu kerja seminggu off ga apa , gaji dikurangin juga tidak apa bu’e, ya bu’e ya”, pinta mereka, cicilan motor ku , lha suamiku mlaah sudah diphk kata sutia menimpali kalimat dari sagung hmmmm sambil menarik nafas panjang Isabel mulai merasakan seandainya dia berada diposisi mereka, aku juga bingung ngatur keuangan kalau tidak aku kurangin karyawan , aku juga tidak bisa bergerak bagaimana ini, Tuhan tolonglah bantulah aku agar bisa bijaksana dalam situasi seperti ini, gumamnya dalam hati. “Bu’e kok melamun to, ditanya malah diam saja”kata Sagung. Eh ya ya , kata Isabel setengah kaget , hmmm duo S , saya mengerti posisi kalian , makanya saya juga mikir dari tadi, dan hal ini sudah saya bicarakan sama Mas Al ,seandainya kami kerjakan semua sendiri kami jujur dapat lumayan keuntungannya , tapi kami sudah memutuskannya untuk membagi keuntungan kami kepada kalian berdua, jadi walaupun saya dan Mas Al jadi berkurang pendapatannya tapi kami rela memberikannya kepada kalian dengan cara ya kalian masih tetap bekerja tetapi gajinya dipotong ya, “ya ,bu’e , makasih makasih makasih bu’e, bu’e baik sekali sama kami, kami Cuma bisa membalas dengan doa semoga bu’e selalu sehat dan diberi rejeki yang melimpah , amien ” teriak mereka seolah-olah dunia milik mereka berdua aja tidak memperdulikan tetangga yang pada kepo mau tau karena teriakan mereka, Isabel mengaminkan ucapan mereka dan tak terasa bibir Isabel ikut tersenyum penuh bahagia karena masih dapat menolong orang lain disaat dirinya sendiri juga kesusahan.

Raut wajah duo S jadi ceria kembali dan suasana gelak tawa memecah kesunyian dipagi itu. Juni 2020 Brakkk!!! Suara pintu dibanting dengan keras “Ada apa ?Tanya Isabel “, perusahaan sabun ingkar janji, saya bodoh , bodoh sekali kata Mas Al sambil menahan amarahnya, Isabel hanya diam menunggu amarah Mas Al reda, tak selang lama Mas Al, berkata sekarang ada 4 orang distributor sabun dibali, katanya menjelaskan kepada Isabel yang hanya duduk diam menunggu penjelasannya, kok bisa kata Isabel, ya karena bos sabun sudah dibutakan dengan omset dan target tinggi, jadi sekarang siapa saja punya modal boleh membeli satu container sabun dan dikirim ,geram Mas Al dan dengan nada yang masih tinggi, mas, ingat rejeki sudah diatur Tuhan ,segala sesuatu sudah diatur sama sang pemberi hidup, sabar ya mas. Hari demi hari berlalu dan penjualan semakin menurun karena begitu banyak saingan sehingga kami harus berfikir ulang untuk mempertahankannya karena semuanya sekarang meminta dibayarkan didepan jika tidak membayar didepan maka barang tidak dikirim , “semprul umpat Mas Al , ahkirnya sekarang aku harus Mantab ( makan tabungan) kata mas Al masih kesal” , untuk membayar semua tagihan asuransi, cicilan rumah dan biaya kehidupan sehari-hari. Setelah berdiskusi ahkirnya kami memutuskan meminta untuk relaksasi atas cicilan rumah kami dan diterima jadi selama satu tahun kami dibebaskan untuk tidak mencicil utang kami tersebut, setelah dari bank, kami menuju ke kantor asuransi untuk mengambil dana yang ada untuk keperluan beberapa bulan kedepan, sementara ini kami bisa bernafas lega, sambil terus berjuang apa yang bisa kita perbuat untuk menolong teman-teman dan diri kita sendiri.

Covid kapan kamu pulang? Tanya Mas Al berkata dengan dirinya sendiri, “entah Mas “sahut Isabel, dan kami pun terdiam sepanjang jalan dan hanya lagu yang di radio yang menemani kami Ku Tak akan Menyerah Lirik: Dalam s'gala perkara Tuhan punya rencana Yang lebih besar dari Semua yang terpikirkan Apapun yang Kau perbuat Tak ada maksud jahat S'bab itu kulakukan Semua denganMu Tuhan Reff: Ku tak akan menyerah Pada apapun juga Sebelum ku coba Semua yang ku bisa, Tetapi kuberserah Kepada kehendakMu Hatiku percaya, Tuhan punya rencana. Juli 2020 “Mas Al, lagi main apa kok asik bener keliatannya” , Tanya Isabel, Tik Tok an jawab Mas Al, “coba lihat” pinta Isabel , “nih lihat baca kontenya ya” kata Mas Al sambil senyum-senyum sendiri. “ berapa banyak temen mu nak kata ibu kepada saya , saya bilang ke ibu, ibu ..aku akan hitung berapa banyak temen ku ketika aku susah nanti , karena pada saat aku susah , aku baru tahu berapa banyak temen yang selalu bersamaku dan mau menolongku” baca Isabel, “wah bagus Mas ..bener betul” seru Isabel seperti menirukan ucapan ipin dalam serial film anak-anak upin ipin, “memang benar ya Mas selama akademi corona ini hampir semua teman baik kita menghilang entah kemana, serba salah jaman sekarang ini, mau main kerumahnya takut nanti dikira membawa virus covid-19 , baru wa an Tanya kabar dikira mau pinjam uang hmmm semuanya serba membingungkan dan hal ini juga di karenakan virus ini tidak mengenal siapa kawan siapa lawan makanya orang terdekat pun banyak berfikiran yang negatif, hanya orang tua kita saja yang selalu menerima kita kapan pun tanpa memikirkan hal-hal seperti diatas ya Mas, memang benar ya lagunya Kasih Ibu , kasih Ibu sepanjang masa , tak terasa air mata Isabel menetes dipipinya dan terus mengalir tanpa bisa dibendungnya, “lho kok nangis “ Tanya Mas Al, “iya , jadi kangen sama bapak dan ibu di Kudus, Mas” sahut Isabel. Uda hampir setahun ini kita tidak pulang tengoin mereka lho mas, semoga tahun depan kita bisa mudik ya mas, aku kangen sama bapak dan ibu , walaupun selama ini selalu videocall sama mereka tapi rasanya kalau belum dipeluk ibu belum lega rasanya mas, isak Isabel, Mas Al Cuma menggangguk tanda setuju karena dia pun sudah sejak dibangku sma tidak lagi bisa merasakan kehangatan dari kedua orang tuanya karena mereka sudah meninggalkan Mas Al lama sekali.bapak nya mas Al meninggal karena jatuh dari plafom dan ibunya sendiri tidak sanggup menanggung semua biaya ke-empat anaknya yang masih kecil-kecil dan lama kelamaan penyakit lah yang menggerogoti ibu sampai ahkirnya menghembuskan nafas yang terahkir dirumah sakit.

Sekarang yang ada hanya tinggalah kenangan manis bersama mereka dan mereka sudah disurga dengan bahagia, doakan kami yang masih menggembara didunia ini, ya bapak dan ibuku batin Mas Al sambil matanya menerawang entah apa yang dipikirkannya.

Agustus 2020

Dari januari 2020 sampai Agustus 2020 entah sudah berapa banyak teman dan saudara kami meninggal karena covid-19 ini, setiap hari mas Al harus berjualan dipasar dari pasar satu sampai ke pasar lainnya untuk memperkenalkan produk kami ini, setiap hari ada saja pedagang yang lapaknya tutup dan ketika dikonfirmasi selalu dibilang terkena covid-19 , semakin hari semakin mengganas dan tidak pandang bulu, dari anak-anak sampai yang tua pun dilibasnya , ahkir jaman begitu kata orang-orang dipasar setiap menggomentari tentang situasi yang enah kapan akan berahkir ini, mas Al teringat pesan Isabel setiap akan berangkat bekerja , menualah bersamaku sampai 100 tahun ya mas, jangan menyerah pada keadaan , jadilah terang diantara orang lain dan bersinarlah agar orang disekitarmu merasakan sinar kenyamanan dan kedamaian yang kamu pancarkan dengan begitu orang yang mulai patah semangatnya kembali bangkit karna melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa setitik harapan saja bisa membangkitkan ribuan orang diluaran sana yang sudah kering jiwanya. Kalahkan keputusasaan itu , selalu senyum walaupun raut muka kita tertutup oleh masker,tapi orang bisa merasakan kehangatan yang kita pancarkan Selamat hari merdeka saudara dan setanah air , 17 Agustus tahun 45 itulah hari kemerdekaan kita , begitulah lagu Indonesia Raya dikumandangkan dan hanya bisa mendengarkan dan upacara bendera dari rumah saja. September 2020 “Mas, ada tagihan asuransi lho” kata Isabel, sebuah dilemma berkepanjangan yang kami rasakan hari demi hari, jika kami tidak bayar asuransi maka semua keperluan rumah sakit dan sebagainya tidak dapat kami dapatkan jika terjadi sesuatu dari kami , kalau kami bayarkan asuransi tahunan ini , nilainya cukup besar dan biaya itu bisa buat bertahan hidup disaat situasi seperti ini, kami berdua cukup terdiam lama dan ahkirnya kami memutuskan untuk mendatangi kantor asuransi tersebut untuk meminta saran dan keterangan yang berlaku selama situasi pandemic ini. Sesampainya disana , pihak asuransi menyambut kami dengan hangat dan mempersilahkan kami bertanya apa saja seputaran asuransi kami dan ketika mereka menanyakan nama dan tanggal lahir sebagai bukti benar bahwa kami nasabah disana dan untuk membuka akses akun kami, tak lama kemudian staff asuransi tersebut tersenyum dan berkata “selamat ulang tahun ibu Isabel semoga ibu selalu sehat dan bahagia”, hmmmm sangking bingung, kaget dan senang ,Isabel malah menitikkan air mata karena dia sendiri lupa jika hari ini dia berulang tahun, sangking sibuknya dan pikirannya habis hanya untuk berjuang melawan hari-hari penuh ketegangan sampai-sampai Isabel melupakan hari bahagianya. Terimakasih Tuhan , masih diberi umur panjang dan diberi kesempatan untuk bersama-sama orang yang saya cintai dan mengasihiku, jika Engkau ijinkan saya berumur panjang biarlah hidupku ini bisa memuliakan nama-Mu dan berguna buat sesama, amien , doa Isabel dalam hati. Kemudian mas Al memeluk dan mengucapkan maaf karena dia juga lupa kalau hari ini Isabel berulangtahun, maaf saya ya, sambil mencium kening Isabel, dan membisikkan selamat ulang tahun dan panjang umur selalu. Isabel hanya mengangguk dan tersenyum kemudian membalas terimakasih sayang. Serasa dunia milik berdua dan si staff asuransi pun dibuat iri melihat adegan romantic kami.setelah adegan romatisan ala Isabel dan Mas Al , si staff pun melanjutkan memberikan informasi bahwa kami bisa postpone pembayaran tetapi akan diambilkan dari uang tabungan yang ada diasuransi kami, jika dana mencukupi,jika tidak maka semua fasilitas tetap akan hangus. Setelah semua jelas kami pulang dengan tidak membawa keputusan apa-apa karena kami galau. Oktober Pada saat pandemic ini ,tidak semua orang mengeluh , karena pada saat Isabel mengikuti pembagian sembako untuk masyarakat yang kurang mampu yang diadakan oleh gereja tempat Isabel beribadah, banyak dari antara mereka malah berkata terimakasih covid karena dengan adanya covid mereka jadi lebih sering makan dan tidak susah cari makan, sebelum covid mereka hampir tidak pernah mendapatkan bantuan dan makan dua hari sekali tetapi sejak covid melanda Indonesia ,mereka dengan jujur berkata banyak orang memberi perhatian kepada mereka sehingga mereka tidak tahu harus bersyukur atau sedih karena ada pandemic covid-19, dari cerita diatas Isabel belajar bahwa tidak selamanya pandemic membuat orang kesusahan nyatanya malah masih ada orang yang bersyukur dengan adanya pandemic ini walaupun berbeda cara berfikirnya . kita harus Mengubah sikap dan cara pandang kita dari yang negative menjadi yang positif, bagaimana sebuah pandemic menjadi akademi, karena didalam akademi kita belajar sesuatu yang baru ,belajar sering cuci tangan dan membersihkan diri, dan melihat peluang yang ada, yang tadinya usaha jahitannya biasa saja sejak ada akademi corona ini, tukang jahit tidak ada yang berhenti bekerja bahkan kewalahan orderan masker, orang awam jadi belajar bagaimana membuat handsanitizer sendiri karena harga barang tersebut yang mendadak jadi mahal dan viral.dan yang lebih penting lagi bagaimana sebuah keluarga ahkirnya menjadi hangat kembali karena sering berkumpul dan melakukan aktifitas dirumah saja.sesuatu yang baru tidak selalu berdampak buruk jika kita bisa melihat dari sudut pandang yang baik.

November 2020

Klingkling bunyi wa Isabel berbunyi terus menerus dan lama baru berhenti, Isabel mengambil handphone dan membuka wa nya dan membaca , Isabel , jika saya ada salah tolong maafkan saya ya, saya sedang menjalani isolasi dirumah sakit tempat saya bekerja dan bantu doakan saya dan teman-teman digarda depan. Saya terkena covid-19 dan paru-paru saya tidak bekerja dengan baik,entah kenapa saya teringat dirimu dan saya meminta ijin kepada dokter yang merawat saya untuk memberikan pesan singkat kepadamu, jaga diri mu baik-baik dan salam buat keluargamu, salam dokter lie ilham. Bunyi pesan tersebut membuat Isabel kaget dan sekaligus sedih karena sahabatnya terkena covid-19 dan apa arti wa itu? Apakah itu tanda dari sebuah berahkirnya persahabatan ku dengan nya? Akankah wa tersebut arti sebuah perpisahan untuk selamanya, hanya Tuhan yang bisa menjawab semua kegalauan yang dirasakan dan dipikiran Isabel saat itu.akankan semua pahlawan negeri ini berguguran hanya karena bebal dan keras kepalanya orang-orang yang mengira covid-19 itu sebuah rekayasa.. Desember 2020 Tak terasa covid sudah mau ulang tahun, happy birthday to you covid dan cukuplah satu tahun saja kamu berada di Indonesia ini, pulanglah dan jangan kembali lagi , dan kurasa kalimat diatas diinginkan semua orang. Diahkir tahun ini Isabel banyak menuliskan pantun untuk meramaikan situasi ini terinspirasi dari teman-teman pelawak yang selalu menghibur para pemirsa. *Dulu orang berdoa agar libur panjang Untuk bisa jalan-jalan sendiri Covid-19 itu muncul dan datang Manusia libur panjang dan sendiri *Kota Wuhan produksi mie Sampah kakus terbawa lie mini Oh Tuhan tolonglah kami Enyahkan virus dinegeri ini