PENSI JAMKOS (PENGAJAR KESENIAN PENGISI JAM KOSONG) : REKONSTRUKSI DAN ESKALASI MORAL INSAN MUDA DALAM BIRAI MULTIKULTURALISME DI BIDANG PENDIDIKAN

Selasa, 14 September 2021 | Penulis: Ni Putu Sugiantari | Fiksi & Non Fiksi

Gambaran tentang kebudayaan yang diajarkan (Sumber: berbol.co.id)

Di banyak negara saat ini, norma-norma moral dan etika sedang dipertimbangkan kembali, tradisi nasional, perbedaan bangsa dan budaya sedang dihapuskan” (Vladimir Putin, 1952)

Sekarang adalah yang sekarang, yang dulu tinggalah sudah. Semua berubah, seakan hilang tanpa arah. Hanya tinggal modernisasi, dari pertanian, industri, dan juga konstruksi. Tenaga manusia telah tereliminasi oleh terjangan robot-robot yang terspesialisasi. Adat, budaya, dan tradisi menjadi korban sayatan oleh kekuatan para setan. Seakan membawa petaka bagi insan pemuda. Kini, moral tak kasat lagi oleh visual, bahkan bukan lagi menjadi suatu yang esensial. Inilah zaman yang gila, dimana kemerosotan moral telah merajalela yang membuat tatanan hidup semakin tak berpola. Seperti itulah globalisasi yang seakan semakin lam semakin menggrogoti jiwa masyarakat Indonesia terutama di kalangan pemuda. Era globalisasi telah menjerumuskan anak bangsa ke jurang yang begitu besar serta telah membutakan anak bangsa. Generasi muda kini telah mencuaikan budaya dan tradisinya, padahal Indonesia terkenal akan multikulturalnya. Tanpa mereka sadari, apa yang telah mereka cuaikan merupakan hal yang sangat signifikan dan sebenarnya sangat penting untuk diprioritaskan. Moral, budaya, dan tradisi seakan telah meluntur dari jati diri bangsa, seperti yang dilontarkan oleh seorang politikus Rusia, Vladimir Putin. Sosok yang saat ini menjabat sebagai presiden Rusia adalah seseorang yang begitu terpercaya karena berhasil menjabat presiden selama tiga kali periode. 

 Kutipan yang mengawali untaian kata ini menyadarkan penulis bahwa budaya dan tradisi merupakan hal yang sangat kompeten dalam membangun semnagat insan muda. Budaya dan tradisi adalah salah satu dari aspek multikulturalisme. Namun, budaya dan tradisi semakin lama semakin raib dari jati diri insan muda. Hal ini disebabkan oleh arus globalisasi dan rendahnya atensi generasi muda. 

Menilik Lebih Dalam Multikulturalisme Bangsa Indonesia dan Konteks Moral Pemuda Indonesia

Multikulturalisme berakar dari kata kebudayaan. Jika ditilik secara etimologis, multikulturalisme berasal dari tiga kata, yaitu multi, kultur, dan isme. Multi memiliki arti banyak atau beragam, kultur artinya budaya, dan isme artinya paham atau aliran. Maka, dapat ditarik kesimpulan bahwa multikulturalisme adalah suatu paham tentang ragam kehidupan manusia ataupun kebudayaan yang menegaskan tentang penerimaan terhadap suatu keberagaman. Indonesia dengan multikulturalisme sudah bagaikan dua sisi uang kertas yang tidak dapat dipisahkan. Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Dewasa ini, sekitar 13.000 pulau besar dan kecil, lebih dari 200 juta jiwa penduduk dengan 300 suku dan menggunakan hampir 200 bahasa yang berbeda menjadi harta kebanggaan Indonesia. Tak sampai di sana, keberagaman agama dan kepercayaan juga ikut menyelimuti bangsa Indonesia.

Kemajemukan bangsa Indonesia setidaknya dapat dikaji dari dua cirinya yang menarik. Pertama secara horizontal, ditandai dengan kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan disparitas adat, agama suku bangsa, dan disparitas setiap daerah. Kedua secara vertikal, adanya kesenjangan antara lapisan atas dengan bawah yang cukup tajam. Di antara kedua aspek tersebut, aspek horizontal merupakan aspek yang paling mudah ditemui di kalangan masyarakat terutama pelajar. Multikultural ini merupakan kenyataan yang harus diterima oleh masyarakat Indonesia. Disparitas ini haruslah disikapi dengan dengan rasa toleransi dan juga cinta kasih. Meskipun demikian, sejarah manusia telah membuktikan bahwa segudang kisah sedih yang menyayat hati diakibatkan oleh adanya rivalitas antara kelompok yang berbeda baik dari segi agama, ras, etnis dan yang lainnya. Multikultur bangsa Indonesia ini bagaikan “belati bermata ganda”. Indonesia memang menjadi negara yang tersohor akan kebudayaannya. Namun, hal tersebut juga menjadi ancaman dan batu penarung bagi Indonesia. Seperti yang telah dilansir dari berita SultraKini.com dan detiknews, pada 27 Oktober 2018 telah terjadi konflik antar suku di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah serta pada 13 Maret 2018 telah terjadi perang kelompok warga di Distrik Kwamki Narama, Timika, Papua yang sudah berlangsung selama lima bulan. Perkara-perkara yang memilukan hati tersebut telah mengisbatkan kembali bahwa multikultural bukan hanya sebagai harta karun tetapi juga sebagai “boomerang” bagi Indonesia. Degradasi moral pun terjadi akibat adanya multikultural yang tidak dapat disikapi oleh bangsa ini. 

Berkaca dari keprihatinan di atas, suatu cetak biru perlu dikonstruksikan dalam memecahkan persoalan tersebut baik melalui bidang politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan maupun pendidikan. Bidang pendidikan merupakan bidang yang memiliki potensi dan otoritas dalam menanamkan dan memupuk rasa kebersamaan, kekeluargaan, persatuan, dan budaya. Selain itu, lembaga pendidikan juga mempunyai kedudukan yang esensial dalam mewujudkan integrasi nasional, yaitu mengintegrasikan pemuda-pemuda dari berbagai sub budaya dan mengembangkan pemuda yang memiliki nilai bersama yang relatif heterogen.

Urgensitas Pendidikan Multikultural dan Perannya Dalam Memerangi Kemerosotan Moral

“Hanya pendidikan yang bisa menyelamatkan masa depan, tanpa pendidikan Indonesia tak mungkin bertahan”, begitulah lontaran dari seorang presenter berita dan sekaligus jurnalis Indonesia, Najwa Shihab. Beranjak dari kutipan tersebut, pendidikan memiliki posisi yang sangat esensial bagi masa depan bangsa. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dalam pasal 1 disebutkan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi dirinya dan mampu membentuk moral manusia. Maka, dapat disimpulkan bahwa pendidikan begitu pentingnya bagi Indonesia. Pendidikan merupakan titik terang yang tepat dalam memerangi berbagai persoalan dalam kehidupan termasuk persoalan bangsa dan negara. Pendidikan multikultural dengan pendekatan studi kultural yang menyinggung tentang pendidikan menjadi intensi dalam degradasi akan persoalan bangsa yang rawan konflik beralih menjadi bangsa yang kuat akan kebhinekaan (Kamal, 2013). Menurut pendapat Anderson dan Cusher, pendidikan multikultural dapat diartikan sebagai pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. Hal yang sehaluan juga diutarakan Paulo Freire seorang pakar pendidikan, ia menegaskan bahwa pendidikan multikultural sebagai jalan keluar dalam menangani tabiat orang terdidik yang menjadikan pendidikan sebagai “menara gading” yang berupaya menjauhi realitas sosial dan budaya. Maka dari itu, untuk merekonstruksi dan mengeskalasi moral generasi muda dengan mempertimbangkan betapa esensialnya suatu pendidikan multikultural bagi bangsa Indonesia, penulis mencanangkan sebuah inovasi yang kreatif dan inovatif yaitu PENSI JAMKOS (Pengajar Kesenian Pengisi Jam Kosong).

Konsolidasi dan Probabilitas PENSI JAMKOS (Pengajar Kesenian Pengisi Jam Kosong) Dalam Merekonstruksi dan Mengeskalasi Moral Insan Muda

Indonesia negara sejuta budaya dan juga kaya tetapi tak dapat dipercaya karena ia juga cukup berbahaya. Sudah banyak daya dan upaya akan tetapi hasilnya hanya berupa bayangan maya. Indonesia memang memendam berjuta-juta budaya tetapi budaya ini mampu menjadi “boomerang” yang akan berbahaya bagi bangsa Indonesia. Pertikaian karena suku, ras, budaya, dan etnik menjadi bagiannya. Generasi muda pun juga ikut andil dalam pertikaian seperti itu. Seribu satu cara telah dilakukan pemerintah dalam menangani persoalan ini. Mediation, konsultasi, dan arbitrase merupakan beberapa cara yang telah dilakukan pemerintah. Namun, masih disayangkan langkah pemerintah masih kurang menarik atensi insan muda dan umumnya masih bersifat represif dan kuratif. Maka dari itu, PENSI JAMKOS mampu menjadi titik terang bagi permasalahan ini. Tujuan utama dari PENSI JAMKOS adalah untuk merekonstruksi dan mengeskalasi moral generasi muda melalui pendidikan dengan ikatan nilai-nilai multikultural. Tak hanya itu, terdapat tujuan lain dalam program ini, yaitu menarik interes insan muda dan mengasah kemampuan yang lebih kompleks (membaca, mendengar, bergerak atau menyaksikan video). Mengapa program ini mampu mengeskalasi moral insan muda? Pertama, karena di dalam program ini, insan muda khususnya pelajar akan diajak untuk membaca, mendengar, menyaksikan video, dan juga bergerak terkait warisan budaya nusantara sehingga dengan ini insan muda mampu mengenal lebih dalam budaya lain dan karena sudah lebih mengenal, maka insan muda akan lebih menghargai perbedaan yang ada. Kedua, program ini dilakukan saat jam-jam kosong di sekolah. Dilansir dari tribunnews, pada 7 Maret 2018 Dewan Pendidikan Lampung menggelar sidak ke beberapa sekolah dan ditemukan empat sekolah yang didapati kelas yang kosong (tidak ada kegiatan belajar mengajar). Akar dari masalah tersebut adalah guru sedang ada kepentingan keluarga dan siswa banyak yang tanpa keterangan(alpa). Lalu, kemanakah para siswa itu? Inilah keunggulan PENSI JAMKOS karena program ini mampu mengisi jam kosong pelajaran sehingga tidak ada lagi siswa yang berperilaku aneh, seperti nongkrong dan perbuatan lain yang dilarang karena berkeliaran tanpa keterangan. 

Target dari adanya PENSI JAMKOS ini diprioritaskan bagi generasi muda khususnya kaum pelajar tingkat SMP dan SMA serta bagi bangsa multikultural layaknya bangsa Indonesia. Tingkat SMP dan SMA dijadikan target karena pada masa itulah pola pikir dan intelek generasi muda sangat mudah dipengaruhi. Generasi muda dipandang penting karena mereka berperan sebagai penerus tonggak kepemimpinan bangsa di masa depan. Untuk menjadi seorang pemimpin, moral yang baik haruslah dimiliki, maka dari itu generasi muda merupakan sasaran yang tepat bagi program ini. Program adalah rancangan kegiatan sistematis yang akan dilakukan secara berkesinambungan dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. Seperti PENSI JAMKOS yang juga akan dilakukan secara berkesinambungan dan sistematis. PENSI JAMKOS merupakan suatu program yang bertujuan sebagai media penyangga orientasi budaya dan prinsip multikultur dan berpotensi dalam merombak moral pemuda menjadi lebih baik. PENSI JAMKOS ini akan dilakukan oleh guru tambahan yang menguasai aspek-aspek multikulturalisme dan budaya serta guru yang sedang tidak mengajar. Program ini dilakukan dengan dua sistem yaitu Teacher’s Willingness (TW) dan Students’ Willingness (SW). Teacher’s Willingness (TW) memiliki makna kemauan guru. Jadi, ketika ada jam pelajaran kosong gurulah yang memiliki wewenang tentang materi yang diberikan. Sedangkan, Students’ Willingness (SW) mengandung arti kemauan siswa. Jadi, ketika ada jam pelajaran kosong siswalah yang memiliki hak terhadap materi apa yang akan dijelaskan guru. Kedua sistem ini digunakan secara silih berganti saat terjadi jam pelajaran kosong lebih dari satu kali. Sistem ini bermaksud agar program ini tidak monoton dan juga menarik. Dalam pemberian materi, terdapat tiga tipe penyampaian materi, yaitu visual, auditorial, dan kinestetik. Konsep ini beranjak dari gagasan tentang gaya belajar oleh Lynn O’Brien. Tipe visual memanfaatkan indra penglihatan dalam mengamati gambar ataupun simbol-simbol yang diterangkan oleh pengajar. Tipe auditorial memanfaatkan indra pendengaran untuk mendengar suara atau musik. Pada tipe ini, dapat dilakukan dengan mengajak siswa bermain alat musik tradisional, mendengar musik atau lagu daerah dan yang lainnya. Antara tipe visual dan auditorial ini dapat digabungkan, seperti menyaksikan video yang terkait dengan kebudayaan. Tipe kinestetik atau dikenal dengan Learning by Doing, merupakan tipe dengan menggunakan indra peraba. Pada tipe ini, siswa bisa diajak untuk melakukan gerakan-gerakan, seperti tarian dan pertunjukkan daerah. Pada tipe ini dapat menyesuaikan dengan kondisi siswa dengan cara memberikan gerakan yang sederhana, mudah, dan mampu dipahami. Terkadang kognisi seperti ini susah dilakukan karena bedanya tipe belajar antar individu. Namun, dengan adanya tipe-tipe yang tersedia, tentunya akan mempermudah eksplorasi materi. Materi yang diberikan dalam program ini dapat meliputi, tari daerah, musik daerah, lagu daerah, bahasa daerah dan lainnya yang masih berkaitan dengan budaya nusantara dan multikultural. Dari paparan di atas, tampak jelas disparirtas antara PENSI JAMKOS dengan guru mata pelajaran seni budaya yang memang sudah ada.

PENSI JAMKOS berfungsi sebagai media dalam memulihkan inovasi baru mengenai eskalasi moral yang berbasis pendidikan multikultural. Melalui program berbasis pendidikan ini diharapkan mampu mencetuskan insan-insan muda yang memiliki moral tinggi dalam birai multikulturalisme dan berkompeten dalam merealisasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata. Jadi, apabila PENSI JAMKOS berhasil melahirkan jiwa-jiwa pemuda yang bermoral tinggi terhadap multikulturalisme, maka dapat dipastikan bahwa secara tidak langsung memiliki kapabilitas dalam menyongsong insan muda yang bermoral dan bermartabat baik serta mampu mengangkat derajat negara baik di mata masyarakat maupun dari pandangan dunia luar.

 

Semuanya punya moral, hanya jika Anda bisa menemukannya” (Lewis Carroll, 1832-1898)

Disclaimer:

Tulisan ini sudah pernah dipublikasi pada Lomba Esai Reinkarnasi Budaya 2018 sebagai Juara I pada November 2018.